KINGPRASTYO.COM

Tempat Sharing Informasi Generasi Milenial

Home / Artikel / Pendidikan / Ringkasan Sejarah Kerajaan Sriwijaya di Nusantara

Ringkasan Sejarah Kerajaan Sriwijaya di Nusantara

/
/
/
123 Views
img

Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan yang ada di Indonesia. Letak kerajaan ini berada di wilayah pulau Sumatera dan bahkan menjadi kerajaan maritim dan memiliki pengaruh yang paling banyak bagi Nusantara.

Saking termashurnya sampai-sampai wilayah kerajaan ini hingga mencapai ke Thailand, Semenanjung Malaya, Jawa, kalimantan, Sulawesi, Kamboja, dan juga Sumatera.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Dalam bahasa Sansekerta, Sri memiliki arti “bercahaya” sedangkan Wijaya memiliki arti “keamanan”. Nama ini tentunya sesuai dengan kejayaan yang dimiliki oleh kerajaan ini.

Bukti adanya Kerajaan Sriwijaya berawal dari abad ke-7 dimana ada seorang pendeta Tiongkok yang bernama I Tsing menulis sebuah catatan bahwa ia pernah singgah dan tinggal di kerajaan Sriwijaya selama 6 bulan tepatnya pada tahun 671.

Selain itu, prasasti tertua peninggalan Kerajaan Sriwijaya juga ditulis pada abad ke 7. Prasasti ini terletak di Palembang dengan nama prasasti Kedukan Bukit yang dibuat pada tahun 682.

Sayangnya, kerajaan ini mulai kehilangan pengaruh dengan kekuasaan di bawahnya sejat terjadinya peperangan raja Dharmawangsa Teguh di Jawa.

Tidak hanya itu saja, terjadi pula sebuah sedangkan pada tahun 1025 oleh Rajendra Chola I dari Koromandel. Hingga pada tahun 1183 kerajaan ini dibawah kekuasaan dari kerajaan Dharmawangsa.

Hingga akhirnya kerajaan ini runtuh dan terlupakan. Namun, eksistensi kerajaan ini mulai diketahui secara resmi pada tahun 1918 oleh seorang sejarawan dari Perancis yang bernama George Cœdès.

Sayangnya pada masa itu tidak ditemukan catatan dari Kerajaan Sriwijaya yang lebih lanjut. Sampai pada tahun 1920 tidak ada lagi orang yang mendengar sejarah Kerajaan Sriwijaya.

Hingga pada tahun tersebut George Cœdès mulai menyebarkan penemuannya ke dalam koran Belanda dan Indonesia. Sejak saat itu, banyak orang yang mulai tertarik dengan Kerajaan Sriwijaya.

Dalam penjelasannya tersebut George Cœdès menyatakan bahwa referensi dari Tiongkok dalam “San-fo-ts’i” sebelumnya pernah dibaca oleh “Sribhoja”. Selain itu, terdapat pula beberapa prasasti kuno yang memiliki sumber kekasaran yang sama.

Kerajaan Sriwijaya juga pernah menjadi ikon kejayaan Sumatera dan juga kejayaan kerajaan di Jawa Timur selain kerajaan Majapahit.

Bahkan pada abad ke 20, kedua kerajaan ini juga dijadikan sebagai rujukan bagi kaum nasionalis untuk menunjukkan kesatuan negara sebelum datangnya kolonialisme Belanda.

Kerajaan ini juga memiliki nama yang bermacam-macam. Misalnya saja orang Tionghoa menyebut kerajaan ini dengan nama San-fo-ts’i Shih-li-fo-shih atau atau San Fo Qi.

sejarah kerajaan sriwijaya
krishadiawan.blogspot.com

Sedangkan dalam bahasa Pali dan bahasa Sansekerta, nama Kerajaan Sriwijaya disebut dengan Javadeh dan Yavadesh. Namun Khemr menyebut kerajaan ini dengan nama Melayu sedangkan bangsa Arab menyebutnya dengan nama Zabaj.

Banyaknya nama yang dimiliki oleh kerajaan ini membuat kerajaan Wijaya sulit untuk ditemukan. Sedangkan dalam peta Ptolemaeus ditemukan terdapat 3 pulau Sabadeibe yang juga mungkin memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya.

Sementara itu, Pierre-Yves Manguin juga melakukan sebuah observasi di tahun 1993 dan beliau berpendapat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Sungai Musi. Sungai Musi ini berada diantara Sabokingking dan Seguntang yang saat ini berada di wilayah Provinsi Sumatera Selatan.

Namun, sebelum pendapat itu ada sebelumnya Soekmono jua pernah berpendapat bahwa pusat kerajaan ini ada di wilayah hilir batang Hari.

Letaknya berada di Muara Sabak hingga Muara trembesi yang saat ini menjadi Provinsi Jambi. Dalam hal ini, Melayu tidak berada di wilayah tersebut.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Moens yang menyebutkan bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Wilayah Candi Muara Takus yang saat ini menjadi provinsi Riau.

Hal ini sesuai dengan petunjuk dari catatan perjalanan I Tseng yang di sana disebutkan terdapat bangunan Candi yang pada tahun 1003 diberi nama cheng tien wan shou. Candi ini saat ini menjadi candi bungsu yang letaknya berada di Muara Takus.

Namun berdasarkan Prasasti Tanjore saat Rejendra Chola I menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, kerajaan ini sudah memiliki ibu kota. Adapun ibukota kerajaan tersebut berada di Kadaram atau saat ini disebut dengan Kedah.

Proses Terbentuk dan Perkembangan Kerajaan Sriwijaya

Memang belum banyak bukti fisik yang menyebutkan jika Kerajaan Sriwijaya sudah ditemukan. Kerajaan ini juga merupakan negara maritim dan menjadi pusat perdagangan pada zamannya.

Namun, Kerajaan Sriwijaya tidak pernah meluaskan daerah kekuasaannya hingga ke luar Asia tenggara.

Beberapa ahli sejarawan juga masih berselisih paham tentang kawasan yang menjadi pusat dari Kerajaan Sriwijaya. Selain itu, kerajaan ini juga bisa jadi sudah berpindah pusat pemerintahannya.

Untuk kawasan Ibukota, kerajaan ini masih dipimpin oleh penguasanya secara langsung. Sedangkan untuk wilayah kekuasan pendukung dipimpin oleh datu di wilayah setempat.

Proses terbentuknya kerajaan sriwijaya
lampungpro.com

Berdasarkan catatan I Tsing yang menyatakan bahwa kekaisaran Kerajaan Sriwijaya sudah ada sejak tahun 671. Bahkan pada tahun 682 tertulis dalam prasasti Kedukan Bukit yang menyatakan bahwa kerajaan ini dibawah pimpinan Dapunta Hyang.

Hingga pada abad ke-7 banyak orang Tionghoa yang menyatakan bahwa terdapat 2 kerajaan yakni Melayu dan kedah yang masih dalam bagian kekuasaan dari Kerajaan Sriwijaya.

Pada prasasti Kpud tahun 686 yang ditemukan di Pulau bangka juga menyebutkan bahwa wilayah Selatan Sumatera sudah dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya.

Bahkan kekuasaannya sudah mencapai Pulau Bangka, Pulau Belitung bahkan hingga sampai ke Lampung. Dalam prasasti ini juga menyebutkan bahwa Sri Jayasana telah melakukan petualangan militer untuk menghukum orang Jawa yang tidak mau tunduk dengan Kerajaan Sriwijaya.

Adanya kejadian ini juga bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Kalingga (Holing di Jawa Tengah serta runtuhnya Kerajaan Tarumanegara di jawa barat akibat serangan dari Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya berhasil tumbuh dan sukses serta dapat mengendalikan jalur perdagangan Maritim di Selat Sunda, Laut Jawa, Selat Karimata, Selat Malaka hingga Laut Cina Selatan.

Karena ekspansi yang dilakukan oleh kerajaan ini menjadikan Kerajaan Sriwijaya mampu mengontrol dua jalur perdagangan di Asia tenggara sekaligus. Dua jalur perdagangan ini adalah Jawa dan Semenanjung Malaya.

Berdasarkan sebuah penelitian menyebutkan bahwa di Kamboja telah ditemukan sisa reruntuhan candi-candi Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, pelabuhan Cham sebelah timur Indo Cina pada abad ke 7 juga sudah mulai mengalihkan perdagangan dari Sriwijaya. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penyerangan dari kota-kota di Pantai Indocina.

Selain itu, pada abad ke 8 kota Indrapura yang terletak di wilayah sungai Mekong juga pernah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Bahkan Kerajaan Sriwijaya juga meluaskan daerah kekuasaannya hingga ke Kamboja hingga Raja Khemer Jayawarman II memutuskan hubungannya dengan Kerajaan Sriwijaya.

Pada akhir abad ke 8, kerajaan Holing dan Tarumanegara juga berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Berdasarkan sebuah catatan menyebutkan bahwa Wangsa Sailendra bermigrasi ke jawa Tengah dan membuat daerah kekuasaannya di sana.

Setelah raja Darmasetu, penerus Kerajaan Sriwijaya selanjutnya adalah Raja Samaratungga. Dia berkuasa dari tahun 792 hingga tahun 835.

Berbeda dengan Dhamarsatu yang eksplanois, Raja Samaratungga justru tidak melakukan ekspansi militer. Ia justru lebih mengutamakan penguasaan Kerajaan Sriwijaya di Jawa.

Pada masa kepemimpinannya, Raja Samaratungga berhasil membuat Candi Borobudur yang saat ini menjadi candi termegah di Jawa Tengah. Pembangunan candi ini berhasil selesai pada tahun 825 M.

Agama dan Kebudayaan Kerajaan Sriwijaya

Agama yang dianut oleh Kerajaan Sriwijaya adalah Agama Budha. Hal ini sesuai dengan catatan I Tsing yang menyebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya dijadikan sebagai rumah dan pusat pembelajaran Agama Budha.

Bahkan, koin emas juga sudah banyak digunakan oleh masyarakat pesisir kerajaan ini. Adapun jenis Agama Budha yang diajarkan adalah Agama Budha mahayana dan Agama Budha Hinayana.

Namun, ada juga sumber yang menyatakan bahwa ada Kerajaan Sriwijaya juga menganut Agama Islam. Hal ini dikarenakan pengaruh pedagang dan ulama Muslim yang berasal dari Timur tengah.

Bahkan hal ini juga menjadi cikal bakal munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara yang melemahkan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Bahkan pada tahun 781 raja Kerajaan Sriwijaya yang bernama Sri Indrawarman memeluk agama Islam. Jadi bisa disimpulkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Sriwijaya adalah menganut ajaran Islam dan Budha sekaligus.

Telah tercatat pula bahwa raja dari Kerajaan Sriwijaya mengirimkan surat kepada Khalifah Islam yang ada di Suriah.

Ada salah satu surat yang berisi agar khalifah Islam di Suriah mengirimkan dari ke Kerajaan Sriwijaya. Surat ini sendiri ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 717-720 M.

Perdagangan Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya pernah menjadi penguasa jalur perdagangan antara Tiongkok dan India. Jalur perdagangan tersebut berada di Selat Sunda dan Selat Malaka.

Bahkan orang Arab juga menyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya memiliki banyak komoditi kayu gaharu, kapulaga, gading, cengkeh, kapur barus, pala, timah, emas yang menjadikan raja-raja Kerajaan Sriwijaya kaya raya.

Kekayaan yang berlimpah ini dijadikan oleh Kerajaan Sriwijaya untuk membeli vasal-vasal di seluruh wilayah Asia Tenggara. Bahkan pada abad ke 10 perdagangan di luar negeri juga cukup heboh akibat hancurnya kerajaan Tang. Dari sini Kerajaan Sriwijaya berhasil meraup keuntungan dari jalur perdagangan yang berlimpah.

Kehidupan Politik di Kerajaan Sriwijaya

Agar wilayah kekuasaannya semakin banyak, Kerajaan Sriwijaya melakukan hubungan diplomasi dengan kekaisaran Cina. Bahkan Kerajaan Sriwijaya juga sering mengantarkan utusan untuk memberikan upeti.

Awalnya, Kerajaan Khimer adalah kerajaan jajahan Sriwijaya. Banyak juga sejarawan yang mengatakan bahwa ibu kota kerajaan Khimer adalah Vhaiya. Hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan pagoda borom that yang memiliki arsitektur mirip Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya juga menjadi hubungan dengan kerajaan benggala dan Pala. Hal ini tercatat dalam prasasti Nalanda yang menyebutkan raja Balaputradewa telah memberikan biara kepada Universitas Nalanda.

Kerajaan Sriwijaya juga menjalin hubungan yang baik dengan dinasti Chola di India. Hal ini juga tercatat dalam prasasti Leiden yang menyatakan Kerajaan Sriwijaya membangun Vihara yang disebut dengan Vihara Culamanivarmma.

Sayangnya, setelah Rajendra Chola I naik tahta, kerajaan ini melakukan penyerangan kepada Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 11. Sehingga hubungan Rajendra Chola I dengan raja Balaputradewa menjadi hancur.

Namun pada masa pemerintahan Kulothunga Chola I hubungan Sriwijaya dengan Chola kembali membaik. Bahkan Kerajaan Sriwijaya juga mengirimkan utusan untuk membebaskan biaya cukai di sekitar Vihara Culamanivarmma.

Seperti ikut kiranya sejarah singkat mengenai Kerajaan Sriwijaya. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan Anda mengenai sejarah kerajaan yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This div height required for enabling the sticky sidebar
%d bloggers like this: